0

Oleh: Nurhasan, S.Pd.I.*

Kita patut bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di bulan Agustus 2021 ini Indonesia memperingati HUT ke-76 tahun Indonesia merdeka. Dalam kemerdekaan tersebut hampir mayoritas masyarakat Indonesia menghendaki agar cita–cita kemerdekaan bangsa seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 bisa terealisasi dengan baik. Karena itu kemerdekaan jangan hanya dimaknai dengan acara seremonial semata yang jauh dari nilai-nilai kepahlawanan dan keimanan. Maka dari sisi kemandirian, kita sebagai bangsa harus bisa mandiri secara ekonomi.

Meskipun kondisi sekarang dalam keadaan sulit karena pandemi, kita harus semangat untuk bangkit dan merdeka dari keterpurukan dengan cara maksimal dalam berusaha. Setelah berusaha pasrahkan semua kepada Allah Swt. Sebab bersama kesulitan pasti ada kemudahan-kemudahan di sana. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah 94: 5-6)

Maka kemandirian ekonomi yang berlandaskan dari nilai-nilai Islam saat sekarang sangat dibutuhkan, khususnya dalam sektor perdagangan yang halal. Kemerdekaan ekonomi harus dimulai dari diri sendiri dengan cara berusaha mencari rezeki yang halal. Jangan karena himpitan ekonomi kita tak mempedulikan halal haram. Sebab Islam sangat menekankan keberkahan dalam masalah rezeki.  Kemandirian bekerja akan bernilai pahala jika diniatkan untuk ibadah. Dengan bekerja secara ikhlas akan terasa nikmat hidup kita. Jangan terlalu terbebani dengan permasalahan yang ada. Yang penting berusaha lalu pasrahkan kepada-Nya.

Dalam Islam prinsipnya yang penting berusaha secara maksimal. Masalah hasil hakikatnya Allah yang ngatur. Semua sudah punya jatah rezekinya masing-masing dan tak akan tertukar satu dengan yang lainnya. Rezeki tak melulu tentang masalah uang, tapi badan sehat dapat melakukan ibadah secara istikamah adalah rezeki yang luar biasa tak terkira. Daripada punya uang melimpah tapi tak merasa berdosa saat meninggalkan ibadah.

Kemandirian ekonomi dalam Islam bukan hanya masalah harta tapi tentang dedikasi dalam mengabdi demi bangsa dan agama. Berusaha semaksimal mungkin untuk mencari jalan keluar di setiap permasalahan yang menghimpit. Maka agar rezeki barakah kita harus mencari dan membelanjakannya dengan cara yang halal. Karena masalah rezeki kelak akan ditanya dengan dua pertanyaan. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang pada hari akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal: usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya dari mana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dia pergunakan.”

Yusuf Qardhawi dalam Malamih al Mujtama` al Muslim mengatakan, “Umat yang mandiri ekonomi akan memiliki izzah. Tak mudah didekte oleh bangsa lain, bebas menentukan arah dan masa depannya. Berbeda bila umat bergantung pada negara lain, sangat rentan hidup dalam bayang-bayang bahkan tidak bebas menentukan arah hidupnya.”

Individu yang mandiri secara ekonomi juga akan memiliki izzah, sebagaimana pesan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam kepada Sa`ad bin Abi Waqqash radliyallahu `anhu, “Seandainya engkau tinggalkan keturunanmu berkecukupan (mandiri ekonomi), maka lebih baik daripada kekurangan dan bergantung pada orang lain.” (HR. Bukhari).

Oleh sebab itu jangan sampai kita memperoleh rezeki dari barang yang haram dan dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka masalah harta jangan sampai melalaikan dari ibadah kepada-Nya. Agar harta berkah dan bermanfaat untuk sesama jangan lupa disedekahkan sebagian kepada orang-orang yang berhak. Jangan hanya dinikmati sendiri agar kita MERDEKA dalam hal kemandirian ekonomi. *Pengurus KSPPS Uswah Mandiri Sejahtera.


Like it? Share with your friends!

0

One Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this
Chat
Hallo Sahabat Al Uswah
Admin ChatAl Uswah CentreWhatsApp
Dsu Al UswahWhatsApp