0

Oleh: Nur Afika Putri, S.P.*

Nasi, makanan yang terbuat dari biji padi yang telah diolah. Berwarna putih, merah ataupun hitam. Menjadi primadona untuk mengganjal perut mayoritas masyarakat Indonesia. Makan tidak kenyang kalau tidak makan nasi. Begitulah kira-kira.

Saking seringnya menu nasi ini dihidangkan pada setiap jamuan, kerap kali kita kelebihan jatah nasi atau mengambil porsi nasi terlalu banyak hingga kita tidak mampu menghabiskannya. Menyisakannya, kemudian berakhir di tempat sampah. Sungguh sangat disayangkan perilaku seperti ini. Ya, meskipun hanya sesuap. Tetapi, nampaknya hal ini sudah menjadi perilaku yang lumrah dikalangan masyarakat.

Menelisik lebih dalam mengenai perilaku membuang-buang nasi ini, maka sejatinya ada yang luput dari kita yaitu bagaimana perjuangan dibalik sesuap nasi itu hingga siap dihidangkan di hadapan kita.

Tahukah kamu? Sesuap nasi itu memiliki rantai perjuangan yang sangat panjang dan waktu yang sangat lama.

Perjuangan dimulai oleh garda terdepan yaitu sang pemulia tanaman (peneliti) yang berjibaku melalui proses amat rumit dan panjang selama 4-5 tahun. Sebut saja tahap pemuliaan tanaman namanya. Mulai dari memilih benih padi, kemudian menyilangkan tanaman padi, dilanjutkan dengan mengujinya pada sebuah percobaan, sampai tanaman tersebut diakui oleh pemerintah melalui Kementan. Bila kita mempelajari lebih dalam tentang tahapan ini, rasanya sangat panjang dan melelahkan. 5 tahun bukanlah waktu yang singkat, bukan?

Itu barulah awal, demi mendapatkan benih padi yang unggul yang memiliki produksi tinggi dan sesuai dengan selera masyarakat. Hasil dari tahapan ini berupa benih padi yang legal untuk ditanam oleh petani.

Petani melakukan perannya di tahap selanjutnya.  Dibutuhkan waktu selama 3-4 bulan bagi petani untuk menanam padi hingga menuai hasilnya.

Pernahkah kita berpikir berapa luas lahan sawah yang harus digarap petani untuk memenuhi sepiring nasi kita?

Yakni seluas 0.13 m2. Perjuangan yang tidak mudah dalam merawat padi hingga panen dikala terjadinya perubahan iklim dan cuaca, banyaknya hama dan penyakit tanaman, serta biaya produksi yang tinggi. Alhasil, sering kita temui para petani gagal panen. Termasuk di Kabupaten Tuban ini.

Bila petani gagal panen, gagal pulalah sepiring nasi hadir di hadapan kita. Lihatlah! Betapa panjang rentetan perjuangan demi menghadirkan sesuap nasi.

Jika kita belum turut merasakan perjuangan para peneliti dan petani, setidaknya kita akan turut merasakan perjuangan dari orang terdekat kita, yaitu ibu dan istri kita. Yang telah meraciknya dengan penuh cinta dan kasih sayang hingga tersaji di hadapan kita. Ya, sesuap nasi ialah bentuk sebuh cinta dan kasih sayang keluarga. Terlebih cinta dan kasih sayang para pejuang pangan untuk memberi makan dunia.

Kita perlu belajar bagaimana menghargai jerih payah mereka dengan tidak se-enaknya membuang nasi, walau sesuap. Menikmati dan menghayati setiap kunyahan nasi hingga terasa manis, semanis ibu dan istri kita dalam meracik jamuan makanan kita.

Terlihat sepele. “Ah wong cuma sesuap”. Coba renungkanlah ada berapa banyak yang terbuang jika 0,1% saja dari penduduk Indonesia membuang sesuap nasi mereka?

Ternyata 273 kg nasi dan itu cukup untuk memberi makan 1.365 orang.

“….Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” QS Al-Maidah: 87.

Cobalah menyoroti jalanan bahwa demi sesuap nasi ada orang-orang yang bertarung dengan panasnya terik dan mencekamnya malam. Bahkan hingga lelah dan tertidur dengan perut tidak terganjal m akanan.

Lantas suatu saat nanti,  jawaban apa yang akan kita beri ketika sesuap nasi yang kita buang itu bersaksi kepada sang Ilahi? Tiadanya rasa syukur atas rezeki dari Ilahi Rabbi? Mari mensyukuri dengan menghabiskan sepiring nasi. *Guru SMAIT Al Uswah Tuban


Like it? Share with your friends!

0

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this
Chat
Hallo Sahabat Al Uswah
Admin ChatAl Uswah CentreWhatsApp
Dsu Al UswahWhatsApp