0

Warga Tuban perlu bangga mempunyai tokoh besar nasional. Yang mempunyai peran sentral dalam Kongres Sumpah Pemuda. Peran yang hingga kini masyarakat Indonesia merasakan dampak baiknya dan dikenang setiap tahunnya.

Jasa yang sungguh berlian dari masa ke masa hingga masa yang akan datang. Menjadi catatan emas yang sulit untuk dihapus zaman. Perlu disimak untuk generasi milenial kini bahwa beliau pejuang yang luar biasa. Di masa Kebangkitan Nasional 1928-1942. Ia aktif sebagai guru dan masuk partai politik.

Pada tanggal 11 Desember 1928 bersama Mr. Sunario Sastrowardoyo mendirikan Perguruan Rakyat yang beralamat di Gang Kenari No. 15 Salemba, dan diangkat sebagai Kepala Sekolah.

Namun pada tahun 1930 ia diminta oleh Ki Hadjar Dewantara untuk menjadi guru Perguruan Taman Siswa Bandung. Pada waktu di Bandung tahun 1930 ia mulai sebagai simpatisan PNI (Perserikatan Nasional Indonesia) pimpinan Sukarno. Tahun 1932, ia diangkat menjadi Kepala Sekolah Perguruan Taman Siswa Bandung.

Di tahun 1933 menikah dengan penulis Suwarsih Djojopuspito di Cibadak dan isterinya ikut membantu mengajar di Perguruan Taman Siswa Bandung. Kakak iparnya adalah Mr. A.K. Pringgodigdo, suami dari kakak isterinya (Ny. Suwarni).

Setelah gagal mendirikan Sekolah Loka Siswa di Bogor karena sepi siswa, Sugondo pada tahun 1936 pindah mencari pekerjaan ke Semarang, dan ia mengajar di sekolah Taman Siswa Semarang, sedangkan isterinya bekerja di sekolah pimpinan Drs. Sigit.

Namun, kemudian akhir tahun 1936 ia pindah ke Surabaya bekerja sebagai wartawan lepas De Indische Courant Soerabaia.

Setelah di Surabaya, tahun 1938 ia pindah lagi ke Bandung dan Sugondo diterima menjadi guru di Handels Cologium Ksatria Instituut (Sekolah Dagang Ksatria) pimpinan Dr. Douwes Dekker.

Ketika keadaan Eropa genting, menjelang Perang Dunia II, maka pada tahun 1940 Soegondo pindah ke Batavia ikut isterinya yang mengisi lowongan guru yang ditinggal pergi orang Balanda. Seperti ditulis diĀ id.wikipedia.org

Soegondo dan istrinya pernah menulis buku Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW, pernah diterbitkan di Malaysia. Selain itu, istrinya juga pernah menulis roman Buiten Het Gareer dan diterbitkan di Belanda.

Sugondo Djojopuspito, dilahirkan di Tuban Jawa Timur pada 22 Februari 1905 lalu, wafat di Yogyakarta, 23 April 1978 dalam usia 78 tahun. Dia memimpin Kongres Pemuda Indonesia II di Kramat Raya Jakarta dan menghasilkan Sumpah Pemuda 1928. Dilansir di news.detik.com

(Admin)


Like it? Share with your friends!

0

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this
Chat
Hallo Sahabat Al Uswah
Admin ChatAl Uswah CentreWhatsApp
Dsu Al UswahWhatsApp