0

Oleh: Juwita Kridha Wicaksini, S.S.*

Ayah bunda sayang, berkali-kali saya sampaikan lewat tulisan di rubrik ini, bahwa tugas orang tua tidaklah mudah, tapi bukan juga terlalu sulit untuk dilakukan. Setiap kita, sebagai orang tua, telah dibekali Allah ilmu parenting yang disampaikan dalam Al-Qur’an (kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Yusuf, juga kisah keluarga Lukman) dan melalui shirah Nabi Muhammad SAW. Bagaimana para suri tauladan itu mendidik, mengasuh, membina putra putri dan keluarga mereka, yang dapat kita contoh.

Di tulisan kali ini, saya akan membahas bagaimana memelihara fitrah keimanan anak-anak kita dalam bab mengimani qadha dan qadar.

Memang butuh belajar dan perjuangan tersendiri memahamkan tentang qadha dan qadar ini kepada anak. Berangkat dari ungkapan ini :

“Demi Allah, seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, hingga dia beriman kepada takdir, mengakui dan mengetahui bahwa dia akan mati serta dibangkitkan setelah kematiannya.” (Ibnu Mas’ud).

Mengenalkan keberadaan Allah terlebih dahulu, harus kita lakukan sebelum kita mengajarkan tentang iman kepada takdir (qadha dan qadar). Setelah ketauhidan anak kita terbentuk, maka pahamkan kepada mereka tentang adanya takdir Allah.

Seperti kita ketahui, Qadha adalah sebuah ketetapan, ketentuan atau rencana Allah untuk segenap mahlukNya, baik di langit maupun di bumi. Sementara itu, Qadar adalah segala sesuatu yang Allah wujudkan, adakan, atau berlakukan sesuai dengan ketetapan, ketentuan atau rencanaNya berdasarkan ilmu dan kehendakNya.

Qadha dan Qadar Allah untuk alam semesta ini bersifat tetap, tidak berubah. Inilah yang disebut sunnatullah atau hukum alam. Misalnya, Allah menetapkan (qadha) bahwa api sifatnya panas dan bisa membakar. Tapi, Qadar Allah yang berlaku untuk Nabi Ibrahim berbeda. Api diwujudkan menjadi benda yang dingin dan tidak mampu membakar Nabi Ibrahim.

Bagaimana kita bisa dengan mudah memahamkan perihal keimanan akan adanya Qadha dan Qadar Allah ini ayah bunda?

Ajak anak untuk membaca kisah/shirah Nabi melalui buku-buku cerita Islami. Di sana ada banyak hikmah yang bisa ayah dan bunda ceritakan, bahwa apapun yang Allah kehendaki, pasti akan terjadi, karena sifat Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya. Misalnya, bagaimana kisah Nabi Ayyub yang diberikan Allah ujian berupa sakit, tapi tetap sabar menerima ketetapan Allah. Nabi Ayyub ridha pada kehendak Allah yang menjadikannya sakit, karena sudah banyak diberi nikmat sehat oleh Allah selama bertahun-tahun. Ini yang anak-anak harus tahu. Belajar sabar dari Nabi Ayyub.

“Puncak keimanan ada empat, yaitu sabar terhadap keputusan Allah SWT, ridha dengan takdir, ikhlas untuk bertawakal dan pasrah kepadaNya.” (Abu Darda)

Orang tua juga harus menunjukkan sikap lapang dan besar hati ketika menerima ketentuan Allah untuk keluarganya. Terkadang pilihan atau keinginan anak tidak sesuai dengan kemauan orang tua. Disini orang tua harus memiliki kebijaksanaan menerima bahwa kenyataan kadang tidak sejalan kemauan. Tugas orang tua membimbing anak atas pilihannya dan kewajiban anak adalah bertanggungjawab atas keputusan/pilihannya.

Yang perlu dipahamkan juga ke anak, bahwa tidak ada takdir Allah yang buruk. Semua takdir Allah itu baik. Pemahaman takdir itu baik dan buruk hanya pada manusia, menurut Allah, semua ketentuanNya adalah baik untuk manusia. Sakit, misalnya. Di balik sakit, ada maksud baik Allah, yaitu untuk menggugurkan dosa-dosa manusia dan menyelamatkannya dari adzab di neraka. Sakit juga menjadi jalan rezeki bagi dokter, rumah sakit, dan toko obat. Sakit bisa membuat manusia ingat Allah, ingat karunia sehat dan semakin membuat manusia yakin bahwa yang bisa menyembuhkan adalah Allah.

Sebagai manusia, kita wajib berbaik sangka pada semua ketentuan Allah. Orang tua harus benar-benar bisa memahamkan hal ini kepada anak. Dengan berdoa, bermohon hanya kepada Allah, bisa menjadi sebab Allah mengubah takdir manusia. Sikap kita sebagai manusia, wajib beriman pada apapun ketentuan Allah dengan tetap sabar dan terus bersyukur.

Begitulah, ayah bunda… semoga kita menjadi orang tua yang diberi kemudahan dalam memelihara fitrah keimanan anak-anak kita. Selagi meminta petunjuk dari Allah, tugas kita sebagai orang tua akan dituntun oleh Allah SWT. Aamiin. Insyaaallah. *Kabid Amal dan Usaha Al Uswah Tuban


Like it? Share with your friends!

0

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share this
Chat
Hallo Sahabat Al Uswah
Admin ChatAl Uswah CentreWhatsApp
Dsu Al UswahWhatsApp