0

Salah satu tujuan pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran tentang apa itu kehidupan. Kesadaran merupakan sesuatu yang penting dimiliki oleh para generasi muda muslim, terutama di tengah zaman yang serba ada dan cepat ini. Masuk dalam “bingkai” budaya yang kapital, material, konsumtif, dan hedonis yang terus mewabah di masyarakat.

Banyak orang ingin cepat populer tanpa berusaha dan bersusah-payah, apapun dilakukan yang penting terkenal dan tenar. Banyak orang berusaha menjadi kaya dengan jalur cepat, mulai menjual narkoba bahkan negara pun yang seharusnya dijaga malah dia “jual”. Mereka “berkuasa” dengan cara merampok dan menipu rakyat. Di sisi lain kondisi masyarakat ada oknum suami yang rela menyelakakan istrinya, ada pula oknum istri yang menyuruh suaminya melakukan korupsi, ada orangtua yang membunuh anaknya sendiri karena “takut” kelaparan. Kesadaran yang tumbuh dari dalam akan menghentikan proses “perusakan dan pelemahan berbagai sendi kehidupan” yang diakibatkan degradasi moral.

Masalah moral ini juga diperparah oleh media baik elektronik ataupun cetak. Yang dikuasai oleh kapitalis global yang mengancam moralitas generasi muda dan eksistensi agama. Maka kita harus punya kesadaran dan tanggung jawab bersama untuk berkreatifitas, berproses, dan selalu kerja keras. Serta harus terus menggali dan memahami kearifan-kearifan lokal yang dapat memperkaya apresiasi dan pemahaman terhadap kebudayaan bangsa sebagai pegangan dalam menghadapi budaya global semakin menjauhkan generasi kita dari budaya kita sendiri.

Bahkan Nabi Yunus “dihukum”-dalam Bahasa mudahnya- oleh Allah dalam perut ikan paus yang gelap selama empat puluh hari lamanya karena mungkin “gagal” memahami kultur umat yang menjadi obyek dakwahnya dan putus asa lalu lari dari tanggung jawab?.

Al-Qur’an tidak seperti kitab-kitab yang lain, Al-Qur’an memerintahkan untuk Iqra’ merupakan perintah kepada umat manusia sebagai kunci pembuka kebahagiaan duniawi dan ukhrowi. Iqra’ berarti menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui, tidak mengharuskan adanya satu teks yang dibaca, atau harus diucapkan sehingga terdengar oleh yang lain.

Karenanya, objek kata tersebut mencakup segala yang dapat terjangkau baik bacaan teks dari wahyu (qur’aniyah) ataupun non teks (apapun yang terjadi di sekitar kita), perintah membaca dikaitkan dengan keharusan adanya keikhlasan serta kecerdasan dalam memilih dan memilah bacaan-bacaan yang mampu membentuk kepribadian yang mempunyai kekhusyuan berdzikir dan kecerdasan berfikir .

Al-Qur’an sebagai wahyu Allah mengandung informasi secara “rahasia”. Hal itu hanya bisa difahami oleh Allah sebagi pemberi dan Jibril sebagai penerima. Hal inilah yang membuka peluang untuk menafsirkan Al-Qur’an dengan ragam penafsiran selama mempunyai kemampuan mentafsir dengan berbagai syarat dan ketentuannya. Karena itu keragaman pemahaman keagamaan adalah sesuatu yang wajar dan berharga, karena merupakan cermin wajah Islam yang rahmatan lil’alamin yang aspirati dan humanis, selama tidak menyentuh prinsip-prinsip dasar syariah.

Tetapi ini tidak berarti, penafsiran liberal tanpa dasar keilmuan yang jelas serta hanya berlindung dibalik “tradisi akademik ilmiah” boleh seenaknya menafsirkan Al-Qur’an dengan penafsiran yang bertujuan; mengotori otentitas agama, memicu kontroversi dan hanya memamerkan kecanggihan berfikir dengan tujuan mendiskreditkan para ulama”. Bila itu dilakukan maka dianggap telah memesan satu tempat di neraka seperti sabda Nabi yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi yang tercantum dalam kitab Kifayah Al-ahyar karya Imam Taqiyyuddin ad-Dimasqi.

Seorang ahli Islam asal Denmark, J. Pedersen, dalam bukunya The Arabic Book, mengungkapkan betapa semangat keagamaan (ajaran Islam tentang Ilmu) telah menggerakkan kaum muslim terdahulu untuk melakukan penulisan dan penyalinan karya-karya tulis secara manual.

Menurut beberapa ahli, dengan spirit keagamaan itulah salah seorang pengarang abad pertengahan Islam yang sangat terkenal, Imam Ath-Thabary, menulis empat puluh halaman perhari selama empat puluh tahun. Gairah penulisan terlihat semarak mulai tafsir Al-Qur’an, koleksi hadits, sastra, puisi, sejarah, biografi-biografi dan lain-lain.

Faktor terpenting yang mengkondisikan hal itu adalah faktor bahasa arab, yang merupakan bahasa Al-Qur’an, bahasa Nabi dan bahasa ahli surga. Kalau umat Islam ingin kembali meraih kejayaan seperti masa lampau, maka tradisi membaca, mengajar, memahami dan menulis, merupakan “motor penggerak” yang harus kembali dilakukan dan ditekuni kaum muslimin terutama generasi mudanya.

Karena hal itu merupakan amanah Allah melalui wahyu pertama yang diturunkan Allah pada Rasul-Nya, dan merupakan poin penting untuk memasuki seluruh ruang serta waktu, memahami pola kebudayaan, mekanisme ekonomi, sistem sosial, politik dan seluruh aspek kehidupan yang berangkat dari ruh Al-Qur’an sebagai sumber pandangan hidup. (Admin).


Like it? Share with your friends!

0

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this
Chat
Hallo Sahabat Al Uswah
Admin ChatAl Uswah CentreWhatsApp
Dsu Al UswahWhatsApp