0

Di hari Kartini, 21 April 2020 ini kami menyajikan perempuan-perempuan hebat di Indonesia yang mempunyai jasa besar bagi tanah air pada masanya. Jasa yang tak terlupakan oleh generasi ke generasi. Pengaruh dan perannya bagi bangsa amatlah penting kita ketahui bersama. Sebagai khazanah keilmuan kita dalam bernegera. Tentu amatlah banyak perempuan yang hebat saat ini di berbagai bidang. Namun, tulisan ini khusus untuk pahlawan nasional yang bengender perempuan yang telah resmi ditetapkan oleh negara.

Perlu diketahui sahabat Al Uswah di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009, pahlawan nasional didefinisikan sebagai gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Indonesia memiliki 185 pahlawan nasional. Rinciannya adalah sebanyak 170 pahlawan nasional Indonesia yang berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan pahlawan nasional perempuan kita berjumlah 15. Data dari http://indonesiabaik.id.

Selanjutnya mari kita simak Pahlawan Nasional yang dari kalangan perempuan. Diantaranya:

R.A Kartini

Ibu Kartini dianugerahi gelar pahlawan nasional tahun 1964 di mana ia merupakan tokoh hak asasi perempuan Jawa. Pemikirannya membawa terang bagi hidup wanita-wanita di zamannya dan dampaknya terasa hingga kini.

Putri Bupati Jepara yang lahir 21 April 1879 itu mendobrak tembok pembatas hak untuk berpendidikan antar-gender, wanita dan pria.

Meski hanya bisa merasakan bangku sekolah sampai umur 12 tahun, karena pada saat itu wanita tidak boleh berpendidikan lebih tinggi dari pria, Kartini tak berhenti. Dia mengisi hari-harinya dengan menuliskan surat berisi pemikiran-pemikirannya kepada teman-temannya di Belanda.

Surat-surat itulah yang dikumpulkan lalu diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Hidupnya menginspirasi wanita-wanita lainnya dan mengubah pandangan terhadap perempuan pribumi.

Cut Nyak Dien

Pemimpin gerilyawan Aceh yang melakukan penyerangan terhadap pasukan kolonial Belanda. Dianugerahi gelar pahlawan nasional tahun 1964. Cut Nyak Dhien berasal dari keluarga bangsawan yang agamis di Aceh. Pada usianya yang ke-12 tahun dia sudah menjalani bahtera rumah tangga bersama Teuku Ibrahim Lamnga.

Cut Nyak Meutia

Cut Nyak Meutia sesama rekan seperjuangan Cut Nyak Dhien di Aceh. Nah mereka berdua dianugerahi gelar pahlawan nasional bersamaan pada 1964. Cut Meutia adalah sosok lain wanita pemberani yang dimiliki Aceh. Lahir di Perlak, Aceh, pada 1870.

Dia tumbuh dalam suasana perang. Bersama suaminya, Teuku Cik Tunong, ia memimpin perang di daerah Pasai. Untuk menghadapi pasukan Belanda yang memiliki persenjataan lengkap, pasangan suami-istri itu menggunakan taktik gerilya.

Raden Dewi Sartika

Seorang pengajar yang mendirikan sekolah untuk perempuan yang pertama di Indonesia, diberikan gelar pahlawan nasional pada 1966. Salah satu tokoh yang sangat berjasa dalam pendidikan tanah air.

Lahir di Cicalengka, Jawa Barat, 4 Desember 1884. Bakat sebagai seorang pendidik muncul sejak dirinya masih belia. Bila ada waktu senggang, dia menyempatkan diri untuk mengajari baca-tulis anak-anak pembantu di lingkungan kepatihan.

Maria Walanda Maramis

Ibu Maramis pendukung hak asasi perempuan dan pengajar dari Minahasa Utara, Sulawesi Utara. dianugerahi gelar pahlawan nasional bersamaan pada 1969. Menurut Nicholas Graafland, dalam sebuah penerbitan “Nederlandsche Zendeling Genootschap” tahun 1981, Maria ditahbiskan sebagai salah satu perempuan teladan Minahasa yang memiliki “bakat istimewa untuk menangkap mengenai apapun juga dan untuk mengembangkan daya pikirnya, bersifat mudah menampung pengetahuan sehingga lebih sering maju daripada kaum lelaki”.

Martha Christina Tiahahu

Dianugerahi gelar pahlawan nasional bersamaan pada 1969. Martha Christina Tiahahu bertempur melawan Belanda demi mempertahankan tanah Maluku yang kaya hasil bumi. Perempuan hebat ini lahir di Nusa Laut, Maluku, pada 4 Januari 1800.

Dia dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, kawan baik dari Thomas Mattulessi atau Kapitan Pattimura.

Sejak kecil, Martha sering mengikuti ayahnya. Pada usia ke-17 tahun, dia ikut dalam pertempuran melawan Belanda di Desa Ouw, Ullath, Pulau Saparua, hanya dengan bekal bambu runcing dan ikat kepala.

Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)

Ibu Siti merupakan pendiri Aisyiyah, dan diberikan gelar pahlawan nasional pada 1971. Istri dari KH Ahmad Dahlan pendiri organisasi masyarakat Muhammadiyah. Lahir di Kauman, Yogyakarta, 3 Januari 1872. Dianugerahi gelar pahlawan nasional bersamaan pada 1971.

Melalui Aisyiyah, Nyai Ahmad Dahlan mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama, serta keaksaraan dan program pendidikan Islam bagi perempuan.

Nyi Ageng Serang

Pemimpin gerilyawan Jawa dari Yogyakarta yang memimpin penyerangan terhadap kolonial Belanda atas beberapa pendudukan, mendapat gelar pahlawan nasional pada 1974 bersamaan dengan Hajjah Rangkayo Rasuna Said, seorang pendukung hak asasi perempuan.

Hj. Rangkayo Rasuna Said

Seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan juga merupakan pahlawan nasional Indonesia. Seperti Kartini, ia juga memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita. Mendapat gelar pahlawan nasional pada 1974.

Rasuna Said bergabung dengan Soematra Thawalib dan mendirikan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi pada tahun 1930. Rasuna Said juga ikut mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan PERMI dan kemudian mendirikan Sekolah Thawalib di Padang, dan memimpin Kursus Putri dan Normal Kursus di Bukittinggi. Rasuna Said sangat mahir dalam berpidato mengecam pemerintahan Belanda.

Hj. Fatmawati Soekarno

Sosok ibu Fatmawati tidak bisa dilepaskan dari Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Ia berdiri di belakang suaminya saat sang proklamator mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Ia pula yang berjasa menjahit bendera pusaka yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945.

Ibu Fatmawati berasal dari Bengkulu dan dianugerahi gelar pahlawan di tahun 1980. Putri tunggal keluarga Hassan Din dan Siti Chadijah. Fatmawati sebenarnya keturunan Kerajaan Indrapura Mukomuko. Sang ayah, Hassan Din, adalah keturunan ke-6 dari Kerajaan Putri Bunga Melur.

Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto

Salah satu jasa beliau saat mengusir penjajah Belanda. Dalam piagam penghargaan di Ndalem Kalitan secara tertulis bahwa Ibu Tien memiliki jasa luar biasa kepada bangsa dan negara Indonesia.

Dalam piagam tertulis “… sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang sangat luar biasa dan tindak kepahlawannya dalam perjuangan melawan penjajah pemerintah kolonial Belanda pada umumnya …, demikian tertulis di piagam tersebut. Mendapat anugerah pahlawan nasional pada 1996.

Opu Daeng Risadju

Seorang politisi perempuan awal yang melakukan perlawanan terhadap Belanda saat Revolusi Nasional. Opu Daeng Risaju itu sendiri merupakan gelar kebangsawanan Kerajaan Luwu yang disematkan pada Famajjah memang merupakan anggota keluarga bangsawan Luwu. pada 2006, pemerintah menganugerahinya sebagai pahlawan nasional.

Opu Daeng Risaju semakin gencar menyebarkan ideologi-ideologi dari Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) ke tanah kelahirannya. Ia melakukan pendekatan kepada sanak saudaranya di kerajaan hingga masyarakat di Palopo untuk turut ikut dalam pergerakan perjuangan PSII.

Tujuan Opu Daeng Risaju hanya satu, ia ingin membebaskan tanah dan rakyat di tempat tinggalnya dari keberingasan Belanda. Ia menyebarkan semangat merdeka itu ke seluruh lapisan masyarakat di Malangke dan Palopo. Pun usahanya ini sukses mendapat banyak simpati dari masyarakat.

Malahayati

Seorang pejuang dan bangsawan asal Aceh saat melawan pasukan Cornelis de Houtman (penjajah Belanda). Keumalahayati atau lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati dianugerahi gelar sebagai pahlawan nasional di tahun 2017. Namanya menjadi satu dari segelintir prajurit wanita yang diakui jasa-jasanya kepada negara.

Setelah Portugis, Aceh harus menghadapi upaya invasi dari Belanda. Setelah armada pimpinan Cornelis de Houtman berhasil dikalahkan oleh Malahayati, giliran pasukan Paulus van Caerden yang mencoba menerobos perairan Aceh pada tahun 1600.

Malahayati dengan memerintahkan penangkapan Laksamana Belanda, Jacob van Neck pada tahun 1601. Perlawanan sengit dari armada Malahayati dan ancaman Spanyol membuat Belanda menyerah. Penguasa negeri kincir, Maurits van Oranje mengirim utusan diplomatik beserta surat permintaan maaf kepada Kerajaan Aceh.

Kedua utusan tersebut ditemui oleh Malahayati sendiri dan berbuah kesepakatan gencatan senjata. Belanda setuju membayar 50 ribu gulden sebagai kompensasi atas tindakan Paulus van Caerden, sementara Malahayati membebaskan sejumlah tahanan Belanda yang ditawan pasukannya.

Andi Depu Maraddia Balanipa

Srikandi dari Mandar yang gigih memimpin rakyat untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan ini, bersama lima tokoh lainnya, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada 8 November 2018. Hingga saat ini, Andi Depu adalah satu-satunya Pahlawan Nasional dari Sulawesi Barat.

Riset M. Darwis Tahir bertajuk “Perjuangan Andi Depu dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Mandar 1945-1950” (2017) memaparkan, perjuangan rakyat Mandar melawan Belanda kala itu bersifat semesta. Artinya, hampir seluruh kalangan rakyat di Mandar turut berjuang sesuai keahliannya masing-masing (hlm. 34).

Islam Muda yang dibentuk sebelum kemerdekaan berubah menjadi Kelaskaran Rahasia Islam Muda (KRIS MUDA), Andi Depu bertindak sebagai panglimanya. Laskar ini berjuang bersama-sama dengan sejumlah elemen perjuangan lainnya di Mandar.

Ruhana Kuddus

Perempuan asal Tanah Minang itu diketahui sebagai wartawati perempuan pertama yang dimiliki Indonesia. Pada 8 November 2019 lalu, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Ruhana Kuddus, berdasarkan keputusan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Perempuan kelahiran Kabupaten Agam pada 20 Desember 1884 itu pada 1912 ini mendirikan surat kabar pertama khusus perempuan di Sumatera Barat, yaitu Soenting Melajoe.

Pendirian surat kabar tersebut tidak terlepas dari maraknya kabar kesewenang-wenangan terhadap kaum perempuan yang marak terjadi pada masa itu.

Dilansir dari dokumentasi Harian Kompas, Ruhana kemudian mencari cara untuk menyarakan suara kaum perempuan. Sejumlah pemimpin surat kabar pun ia ajak berkoresponden, salah satunya Soetan Maharadja, yang merupakan pemimpin redaksi Utusan Melayu.

Dalam suratnya, Ruhana Kuddus mengungkapkan keinginannya memperjuangkan nasib perempuan, sehingga membuat Soetan bersimpati. Keduanya lalu bertemu dan sepakat mendirikan surat kabar khusus perempuan pertama di Sumatera Barat, yaitu Soenting Melajoe yang bermakna “Perempuan Melayu”, pada 1912.

*Diolah dari berbagai sumber


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
1
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this
Chat
Hallo Sahabat Al Uswah
Admin ChatAl Uswah CentreWhatsApp
Dsu Al UswahWhatsApp
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format